Logo Design by FlamingText.com

Follow me on Twitter

@hamzah_minang

Rabu, 23 Desember 2015

Persepsi yang Berbeda

Ketika perjalanan pulang kemaren, ada percakapan antara seorang ibu (I) dengan seorang bapak (B) yang menurut saya sangat menarik.
I : "Itulah, kalau kaum perempuan kerja, maka kasihan anaknya yang harus selalu ditinggalkan. Tapi kalau tidak kerja, kasihan pula ijazah S1 yang telah susah payah orang tua agar si anak mendapatkan gelar itu. Apalagi yang S2 dan S3."
B : "Seharusnya perempuan tidak usah kuliah ndak Bu. Karena tugasnya kan menjaga anak di rumah."
I : "Kalau anak perempuan tidak disekolahkan, nanti malah dapat suami yang tidak berbobot pula."
B : "Hehe, iya Bu, nanti dapat suami yang tidak mamilin (tidak pandai atau malas bekerja)."
I : "Itulah, kamari bedo (serba salah) jadinya."
******
Aku hanya tersenyum mendengar percakapan itu. Miris juga mendengarnya. Ternyata harapan orang tua menyekolahkan anak perempuannya hingga ke jenjang yang lebih tinggi dengan harapan agar anaknya mendapatkan suami yang berpendidikan pula. Karena umumnya orang yang berpendidikan kerjanya lebih banyak mendapatkan uang.
Lupakah kita bahwa tentang jodoh telah ditetapkan Allah, bahwa "Laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, dan perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik." BUKAN "Laki-laki yang berpendidikan tinggi untuk perempuan berpendidikan tinggi, dan perempuan yang berpendidikan tinggi untuk laki-laki berpendidikan tinggi." Jadi kepada kita semua para orang tua dan calon orang tua yang berpersepsi sama seperti Ibu di atas, maka lebih baik tidak usah sekolahkan anak tinggi-tinggi daripada nantinya kecewa jika sang anak tak bersuamikan lelaki yang berpendidikan tinggi pula.
Memang benar perempuan sebagai istri dan ibu bertanggungjawab mengurus rumah tangga dan anak-anak. Saya setuju itu. Tetapi tugas perempuan sebenarnya lebih besar daripada hanya sekedar menjaga dan mengurus rumah tangga dan anak-anaknya. Seorang perempuan sebagai istri dan ibu yang mengurus rumah tangga dan anak-anaknya juga menjadi guru pertama bagi anak-anaknya. Perempuanlah yang sebagai mesin untuk mencetak generasi yang baik, cerdas, berbudi, saleh/salehah. Maka sewajarnyalah perempuan berpendidikan tinggi. Agar anak yang dididiknya menjadi seorang yang hebat dunia dan akhirat. Bukankah lebih baik seorang anak dididik oleh seorang profesor?

Tidak ada komentar :

Posting Komentar